Selamat Menempuh Hidup Baru, Kamu yang Pernah Ada di Hatiku
|
Apr 3, 2015
Tentu hatimu kini berdebar menanti hari itu tiba. Aku bisa membayangkan bagaimana keringat dinginmu yang terus mengucur deras di kening dan telapak tanganmu. Ah, kamu memang terlalu sering membayangkan berbagai skenario yang belum tentu terjadi. Di hari bahagiamu ini ijinkan aku mengucapkan selamat dengan ketulusan hati.
Kedatanganmu dengan kabar bahagia sebenarnya sudah kuduga. Sebagai teman, aku lega juga turut merayakannya

Kabar baik darimu sebenarnya sudah terduga via etsystatic.com
Kamu telah menunggu di teras rumah. Tak ada yang berubah dari raut emosimu. Tetap datar seperti dulu. Mungkin sedikit senyum tipis yang kamu usahakan sekilas terlihat. Dalam keadaan yang begitu canggung ini aku hanya bisa mengomentari tubuhmu yang gemukan. Aku tahu, kamu ingin mengundangku ke acaramu. Acara sakral yang telah kau rancang begitu detail bersama keluarga besar dan kekasih hatimu yang baru. Tanpa berpikir panjang, aku pun menjanjikan untuk hadir pada hari bahagiamu.
Bukan berarti aku masih menyimpan rasa. Namun selepas kemunculanmu di depan pintu kisah kita seakan kembali terputar di kepala

Kenangan itu datang lagi. Saat-saat dulu kita masih merajut rindu. via www.slideshare.net
Kisah kita memang cukup indah, tapi tenang, itu tak berarti aku masih menyimpan rasa padamu. Perasaanku padamu telah lama selesai sejak… sejak aku sadar bahwa cinta bukan lah hanya soal cowok tampan dan populer di sekolah yang membanggakan jika dibawa ke acara pensi. Lebih dari itu, cinta adalah soal menemukan kecocokan dan menyatukan perbedaan. Itu yang tak pernah kita miliki.
Kita pernah jatuh cinta begitu dalam. Namun egoisme dan sifat keras kepala ternyata lebih punya daya bungkam

Semuanya masih tersimpan rapi dalam sebuah kotak yang kusebut memori via poetryvoice.wordpress.com
Entah ada angin apa, kamu pun mulai berani untuk menampilkan diri. Jantung serasa berhenti sejenak, ketika dengan tergagap kamu memintaku menjadi pacarmu. Di malam itu, aku tak bisa memejamkan mata semalaman. Hari-hari kita pun berubah. Jejaring sosial penuh dengan kegiatan kita tanpa peduli komentar yang lain.
Hingga kita mulai menyadari sesuatu, kita memiliki pandangan berbeda tentang kehidupan. Aku sosok yang selalu haus akan petualangan. Tak pernah puas pada kenyamanan. Sedangkan kamu seorang dengan ketenangan yang selau bertahan pada zona nyaman. Aku tak mungkin memaksamu mengikuti caraku, pun kamu tak bisa membawaku menurutimu. Kita sudah pernah berusaha keras mencoba, namun tetap tak bisa.
Kita memang gagal sebagai dua orang yang saling cinta. Tapi apapun yang terjadi, kau pula yang mendampingiku jadi lebih dewasa

Bagaimanapun, kau lah yang membuatku jadi dewasa via tumblr.com
Hari ini, aku melihatmu menyandingnya dengan penuh cahaya. Aku turut bahagia. Kutahu, kisahmu kali ini akan diamini semesta

Semoga kisahmu kali ini diamini semesta via imgkid.com
Tak sedikit pun ada kekecewaan melihatmu bersanding dengannya. Justru, aku sangat bahagia, karena kini kamu telah menemukan apa yang kamu cari. Selamat menemuh hidup baru, kawan lama, maaf jika mungkin aku pernah berbuat sesuatu yang kurang menyenangkan bagimu. Pesanku, jadilah pemimpin yang tegas untuk keluargamu. Selalu perlakukan istrimu selayaknya ratu. Semoga kalian menjadi keluarga yang penuh berkah.
Dariku,
sahabat yang dulu sempat kau cinta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar